-

About

javascript:void(0)

Selasa, 24 Januari 2012

19 Keistimewaan Wanita

Dapat kiriman sebagai himmah katanya; jangan nanyain sumbernya ya…!!!
1. Do'a  wanita lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayang
yang lebih kuat daripada lelaki.
Ketika ditanya kepada Rosululloh SAW akan hal tersebut, jawab baginda :
" Ibu lebih penyayang daripada Bapak
dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia.
2. Wanita yang sholehah ( baik ) itu lebih baik daripada 1000 lelaki yang sholeh.
3. Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya,
derajatnya seperti orang yang senantiasa menangis karena takut Alloh SWT
dan orang yang takut Alloh SWT akan diharamkan api neraka keatas tubuhnya.
4. Barang siapa yang membawa hadiah ( barang, makanan dari pasar kerumah )
lalu diberikan kepada keluarganya, maka  pahalanya seperti bersedekah.
Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki.
Maka barang siapa yang menyukai akan anak perempuan
seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail A.S
5. Wanita  yang tinggal bersama anak-anaknya, akan tinggal bersama aku
( Rosululloh SAW ) di dalam surga.
6. Barang siapa yang mempunyai tiga anak perempuan atau tiga Saudara perempuan
atau dua Saudara perempuan , lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka
dengan penuh  rasa takwa serta bertanggung jawab, maka baginya  adalah surga.
7. Dari Aisyah r.a. "Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya
lalu dia berbuat baik kepada mereka ,
maka mereka akan menjadi penghalang baginya api neraka."
8. Surga  itu di bawah telapak kaki ibu.
9. Apabila memanggilmu dua orang ibu bapamu  maka jawablah  panggilan ibumu dahulu.
10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka
dan terbuka pintu-pintu surga .
Masuklah dari manapun pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
11. Wanita yang taat pada suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara,
malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama
dia taat kepada  suaminya ( serta  menjaga sholat dan puasanya ).
12. Aisyah r.a. berkata " aku bertanya pada Rosululloh SAW,
siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita ?
Jawab baginda "suaminya".
Siapa pula berhak terhadap lelaki?"
Jawab Rosululloh SAW "Ibunya"
13. Perempuan apabila sholat lima waktu, puasa di bulan Romadhon,
memelihara kehormatannya serta taat pada suaminya,
masuklah dia dari pintu  surga mana saja yang dia kehendaki
14. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama,
maka Alloh SWT  memasukkan dia kedalam surga lebih dahulu
daripada suaminya ( 10.000 tahun )
15. Apabila seorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya,
maka beristigfarlah para malaikat untuknya.
Alloh SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1000 kebaikan
dan  menghapuskan darinya 1000 kejahatan.
16. Apabila seorang perempuan  mulai sakit hendak bersalin,
maka Alloh SWT mencatatkan  baginya pahala orang yang berjihad
pada jalan Alloh SWT
17. Apabila seorang perempuan  melahirkan anak, keluarlah ia dari dosa-dosa
seperti keadaan ibunya melahirkan
18. Apabila telah lahir ( anak ) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan
dari susunya diberi satu kebajikan
19. Apabila semalaman ( ibu ) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit,
maka Alloh SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba
dengan ikhlas untuk membela agama Alloh SWT

Walloohu A’lam bishowab.

Minggu, 22 Januari 2012

MARTABAT 7, Mencari Tuhan

Istilah ajaran martabat tujuh, tidak pernah dikenal pada masa Rosululloh,
beliau tidak mengajarkan secara khusus.
Ajaran martabat tujuh didalam tasawuf merupakan perkembangan dari ilmu tauhid
yang diajarkan oleh Rosululloh.
Kedudukan ilmu ini sama halnya dengan mempelajari ilmu fiqh, ushul fiqh, filsafat,
ilmu diroyah hadist, riwayah hadist, ilmu Alqur'an dan ilmu tafsir
(ilmu-ilmu ini tidak pernah diajarkan oleh Rosululloh secara khusus),
akan tetapi ilmu-ilmu ini merupakan pembahasan yang mengacu
kepada dasar yang telah diajarkan oleh Rosululloh.
Ada beberapa hal yang menyebabkan ilmu-ilmu itu muncul.

Hadist Rosululloh, yang merupakan qouli (ucapan), fi'li (perbuatan) dan taqriri (ketetapan),
ditulis oleh para periwayat hadist secara sederhana, sehingga tidak semua orang mampu

mengerti kedalamannya.
Dengan bahasa yang digunakan oleh Rosululloh banyak diantara sahabat yang bukan
orang asli Arab setempat tidak mengerti maksudnya.
Hal ini disebabkan gaya bahasa yang disampaikan terlalu tinggi balaghohnya
(biasanya sering menggunakan bahasa perumpamaan),
yang terasa sulit bagi kita untuk mengerti, akan tetapi pada saat itu para sahabat
bisa langsung bertanya kepada Rosululloh apabila ada kalimat yang tidak bisa difahami.

Persoalan kadang juga muncul karena ada kata yang bersifat musytarak (satu kata banyak arti ),
sehingga sulit bagi generasi setelahnya untuk menentukan makna yang sebenarnya
seperti kata lamastum (Qs: An Nisa':43) yang memiliki dua arti yaitu menyentuh dan bersetubuh.

Kemudian di bidang Hadist, ..banyak para periwayat tidak menggunakan bahasa
yang redaksinya berasal dari Rosululloh.
Setelah mereka melihat perilaku Rosululloh, lalu mereka menulis redaksi hadist tersebut
dengan bahasanya sendiri, sedangkan kita tahu bahwa setiap periwayat tidak semuanya
berasal dari orang-orang Arab setempat, akan tetapi ada yang berasal dari Yaman, Madinah,
Persia dan kaum Baduy yang berasal dari pegunungan, yang kesemuanya itu memiliki dialek yang berbeda.

Oleh karena itu wajarlah hikmah itu muncul dengan adanya ilmu-ilmu seperti ilmu balaghoh, ilmu Bayan,
ilmu ushul Fiqh, ilmu Diroyah, Riwayah, mustholahul hadist, ilmu tauhid dll.

Dengan demikian kita boleh menerima apa yang datang dari gagasan ulama masyhur,
selama tidak bertentangan dengan Alqur'an dan Al hadist.
Salah satunya tentang ajaran Martabat Tujuh.
Tetapi apabila kita tidak setuju dengan pendapat ulama tersebut,
sebaiknya kita menjadikan ilmu tersebut sebagai wacana keilmuan Islam yang berkembang .

Ajaran martabat tujuh di susun oleh Muhammad Ibn Fadhilah dalam kitabnya
At Tuhfatul Mursalah ila Ruhin-Nabi.
Dalam kitab ini diterangkan bahwa Dzat Tuhan merupakan Wujud Mutlak, tidak dapat dipersepsikan oleh akal,
perasaan, khayal dan indera..
Dzatulloh sebagai aspek bathin segala yang maujud (ada), karena Tuhan meliputi segala sesuatu
(Lihat surat Fushilat :54)
dan untuk bisa memahami wujud Tuhan yang sebenarnya secara transenden harus setelah bertajalli
sebanyak tujuh martabat yakni :

1. Martabat Ahadiyat, yaitu martabat la Ta'yun dan ithlaq.
Ialah tahap yang belum mengenal individuasi, inilah martabat yang tersembunyi (kosong),
karena belum ada ide-ide, namanya Dzat Mutlak.
Hakikat ketuhanan.tak seorangpun dapat meraih-Nya,
bahkan nabi-nabi dan wali-walipun tidak.
Para malaikat yang berdiri dekat Alloh tidak dapat meraih hakikat Yang Maha Luhur,
tak seorangpun mengetahui atau merasakan hakikat-Nya.
Sifat-sifat dan nama-nama belum ada, sebuah manifestasi yang jelaspun belum ada.
Hanya Dialah yang ada dan nama-Nya ialah " wujud makal" Dzat Yang langgeng,
hakikat segala hakikat.
AdaNya ialah kesepian atau kekosongan ( kosong tapi ADA).
Siapakah gerangan yang tahu akan hal keadaan ini ?

Diantara semua martabat, tak ada satupun yang melebihi martabat ini
yang bernama Ahadiyah.
Semua martabat lainnya berada dibawahnya.

2.. Martabat kedua bernama Martabat Ta'yun Awal ( awal kenyataan).
Pada tahap wahdah ini mulailah individuasi.
Inilah kenyataan Muhammad yang tersembunyi di dalam rahasia Tuhan,
didalam cara-cara berada dzatNya.
Semua kenyataan belum terpisah antara yang satu dengan yang lainnya,
karena masih terikat satu sama lain dalam cara-cara berada itu.
Antara ide yang satu belum ada perbedaan dengan ide yang lain,
karena masih tersembunyi di dalam wahdat.
Mereka masih terkumpul di dalam (kenyataan) Muhammad yang merupakan awal
pemancaran cara-cara berada hakikat sejati.
Yang dinamakan wahdah ialah hakikat Muhammad, semua hakikat masih berkumpul
dalam martabat wahdah dan belum terpisah-pisah.
Martabat wahdah ini dapat di ibaratkan dengan sebutir biji; batang, cabang-cabang
dan daun-daunnya masih tersembunyi di dalam biji itu dan belum terpisah-pisah.
Batang, cabang-cabang dan daun-daun melambangkan engkau, aku, mereka,
sedangkan bijinya tunggal (wahdat).

Masih ada perumpamaan lain, yaitu tinta dalam wadahnya.
Semua huruf terkumpul di dalam tinta, huruf yang satu belum dibedakan dari huruf lain.
Demikian juga dalam wahdah semua huruf, tuhan dan kita, sebelum terpisahkan.

Dari tinta inilah segala sesuatu itu terjadi, gambar rumah, gambar gunung, gambar manusia , batu,
angin dan bentuk-bentuk lainnya.
Dan Tinta itu bukanlah yang menulis, akan tetapi Dialah Yang menggerakkan,
Yang hidup, Kuasa, Yang Gagah, dengan demikian muncullah sifat-sifat "siapa"
yang menggoreskan tinta itu.
Bisa ditarik kesimpulan bahwa sifat bukan hakikat ketuhanan akan tetapi sifat
adalah yang bersandar kepada Dzat Tuhan.

Sesuatu yang bersandar
kepada Dzat bukanlah Tuhan, kedudukannya sama halnya dengan tanaman, pohonan,
gunung, surga dan neraka, karena semua muncul karena adanya Dzat yang Hidup,
dzat-lah Yang menggerakkan semua ini.

Mengetahui Martabat ini disebut wahdat dan hakikat kemuhammadan atau Nur Muhammad
artinya cahaya yang penuh pujian Tuhan.
Inilah permulaan segala sesuatu, sehingga Alloh bisa disifati karena Ia Yang Menciptakan
(Al Kholiq), Yang Memelihara (Al Hafidz), Yang Perkasa (Al Jabbar), Yang Maha Kuat
(Al Qowiyu), Yang Hidup (Al Hayyu) dst, sedangkan sifat itu sendiri bergantung
kepada sang Dzat (tidak berdiri sendiri ), oleh karena itu Islam melarang berhenti kepada sifat.
Karena sifat itu bukan Dzat itu sendiri. dan untuk mengetahui Dzatulloh harus meninggalkan sifat-Nya
(mengembalikan kepada martabat pertama, yaitu keadaaan hakikat Tuhan
yang belum ada apa-apa ) karena sifat merupakan sesuatu yang bergantung
(membutuhkan sandaran)
Dan sifat Alloh itu masih bisa dirasakan oleh makhluk-Nya seperti Ar Rohman (Pengasih)
Ar Rohiim (Penyayang), Al Qowiyyu ( Kuat) sedangkan sifat itu muncul karena persepsi
sang hamba (inna zhonni 'abdi, Aku tergantung persepsi hamba-hamba-KU)

Hal ini digambarkan oleh kaum Hindu sebagai Trimurti (tiga sifat Tuhan yang tidak erpisahkan),
yaitu sifat Tuhan Hyang Widi Wasa, dimana ketiga sifat itu tidak bisa dipisahkan antara satu
dengan yang lainnya yaitu Dewa Brahma (Pencipta/ Al Kholiq), Wisnu ( Pemelihara/ Al Hafidz),
Siwa ( Perusak atau pelebur/ Al Jabbar).
Kaum Hindu menyadari bahwa Tuhan yang sebenarnya tidak bisa digambarkan dengan pikiran,
tidak bisa diserupakan dengan yang lainnya, Aku berada dimana-mana diseluruh alam semesta
dalam bentuk-Ku yang tidak terwujud (tidak bisa dibayangkan).
Semua makhluk hidup berada didalam diri-Ku(liputan-Ku) tetapi Aku tidak berada di dalam mereka
(Bhagawad Gita Seloka 9.0 ) dan tidak boleh menyembah sifatnya seperti tercantum
dalam kitab Bhagawad Gita Seloka 9.25 : Yanti deva-vranta devan pitrn yanti pitr-vantrah,
bhutani yanti bhutejya, yanti mad-yajino 'pimam
artinya : orang yang menyembah dewa-dewa akan dilahirkan diatara para dewa ,
orang yang menyembah leluhur akan pergi ke leluhur,
orang yang menyembah hantu dan roh halus akan dilahirkan ditengah-tengah makhluk-makhluk seperti itu.
Dan orang yang menyembah-KU akan hidup bersama-Ku.

Begitu jelas ajaran hindu melarang menyembah dewa-dewa atau sifat-sifat seperti Brahmana, wisnu dan siwa,
akan tetapi mereka membatasi diri terhadap sifat-sifatnya saja,
mereka menyadari manusia tidak akan pernah sampai kepada Dzat Mutlak tersebut
kecuali para Guru Suci, kaum Brahmana yang memiliki kasta lebih tinggi
dari pada kaum Sudra dan Vaisa

Sebaliknya Islam menyempurnakannya dengan langsung kepada Dzatulloh, tidak berhenti kepada sifat-Nya ,
yaitu dengan menafikan (mengabaikan) segala sesuatu kecuali Alloh.
Laa ilaaha illalloh. atau laa syai'un illalloh ( tiada sesuatu kecuali Alloh)

juga terdapat dalam Surat Thoha:14 innanii Ana Alloh, laa ilaaha illa ANA, fa'budnii,
sesungguhnya AKU ini Alloh, tidak ada Tuhan selain AKU maka sembahlah AKU
dan dirikanlah Sholat untuk Menyembah AKU !!

Jelas dengan tegas bahwa Alloh mengarahkan kita untuk menyembah DZAT-NYA
bukan Nama-Nya bukan Sifat-Nya.
Itulah bedanya kaum Hindu dengan Islam.
Islam tidak mengenal perantara, seperti tercantum dalam Surat Al; An'am 79 :
Sesungguhnya aku hadapkan diriku kepada wajah Dzat Yang Menciptakan langit dan bumi dengan lurus,
dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan
(aku tidak melalui perantara siapapun).
Ditegaskan dalam Baghawad Gita Seloka 2.61 : orang-orang yang mengekang
dan mengendalikan indriya-indriya sepenuhnya dan memusatkan kesadarannya sepenuhnya Kepada-KU,
dikenal sebagai orang yang mempunyai kesadaran yang mantap !!


1.. Martabat Ta'yun kedua, atau wahidiyat.

Yaitu kesatuan yang mengandung kejamakan, tiap-tiap bagian telah jelas batas-batasnya.
Sebagai hakikat manusia. Ibarat ilmu Tuhan terhadap segala sesuatu secara terperinci,
sebagian terpisah dengan lain.

Ketiga martabat tersebut bersifat bathin dan ilahi, terjadi semenjak dari qodim.
Urutan kejadian dari ketiganya bersifat akal, bukan perbedaan zaman.
Dari ketiga martabat bathin muncullah tiga martabat lahir.

2.. Martabat Alam Arwah.

Merupakan aspek lahir yang masih dalam bentuk mujarrod dan murni.
3.. Martabat Alam Mitsal,
ibarat sesuatu yang telah tersusun dari bagian-bagian, tetapi masih bersifat halus,

tidak dapat dipisah-pisahkan.
4.. Martabat Alam Ajsam (tubuh)
Yakni ibarat sesuatu dalam keadaan tersusun secara marteriil telah menerima pemisahan

dan dapat dibagi-bagi, yaitu telah terukur tebal tipisnya.
5.. Martabat Insan,
mencakup segala martabat diatasnya, sehingga dalam manusia terkumpul tiga martabat
yang sifat bathin dan tiga martabat lahir.

Kalau kita perhatikan ajaran martabat tujuh, pada dasarnya adalah mengungkapkan
secara berurutan asal muasal kejadian manusia maupun alam semesta.
Didalam pengurutannya Syekh Muhammad Ibnu Fadhilah menempatkan Dzat
sebagai hakikat dari segala sesuatu.
Karena itu Dzat disebut sebagai La Ta'yun tidak bisa dikenal hakikatnya.
Keadaan-Nya tidak kenal penyebutan karena segala persepsi tidak bisa menggambarkan keadaan-Nya.
Keadaan yang masih belum ada apa-apa, masih awang uwung (ithlaq ),
yang wilayah ini digambarkan oleh Al Qur'an sebagai orang yang pingsan
( suatu keadaan yang di alami oleh Nabi Musa As, lihat QS: 7:143)

Inilah objek yang kita tuju, bukan kepada sifat dan Nur-Nya.
Kepada Dzat itulah kita kembali innalillahi wa inna ilayhi rooji'uun,
kita memuja, bersujud, kita bergantung !!

Kesadaran ketuhanan ini jarang sekali dipahami masyarakat kita dengan baik,
karena sudah dihambat oleh para pengajar (ustadz), bahwa kita tidak boleh langsung kepada Tuhan.
Karena Tuhan itu suci, maka harus melalui perantaranya,

atau kita hanya sampai kepada cahaya-Nya.
Pendapat ini sering bercampur dengan ajaran hindu yang memang mengajarkan
hal serupa yaitu harus melalui birokrasi ketuhanan (wasilah)

Oleh karena itu, apabila manusia dapat mengembangkan kehidupan rohaninya,
sehingga dapat memperhatikan ke tujuh martabat tersebut, maka dia akan menjadi
manusia sempurna (insan kamil).
Sedangkan insan kamil yang paling tinggi dan yang paling sempurna adalah Nabi Muhammad SAW.

Dasar pandangan yang terdapat pada rumusan martabat tujuh tersebut,
adalah paham pantheisme-monoisme.
Menurut Muhammad Ibn Fadhilah, bahwa segala yang ada ini dari segi hakikat adalah Tuhan,
sedangkan dari segi yang kelihatan secara lahir bukan Tuhan.
Sebagai tamsil misalnya uap, air, es, salju dan buih, dari segi hakikat adalah air.
Akan tetapi dari wujud lahir bukan air .

Untuk sedikit memahami ajaran ini, saya akan mengajak anda keluar ruangan
dan memperhatikan sebuah pohon kacang hijau yang baru tumbuh (kecambah),
atau pohon apa saja yang anda lihat di depan rumah anda.

Mari kita perhatikan dengan seksama !!

Berasal dari sebuah biji yang kecil lalu tumbuh bergerak menjadi batang yang tinggi,
menjadi pucuk daun, menjadi ranting, menjadi akar, lalu mati ...biji-biji yang lainnya
akan berlaku sama seperti itu.., kemudian anda perhatikan Bumi bergerak , bulan bergerak,
atom-atom bergerak pada aturan yang harmoni... kemudian anda pandangi seluruh alam semesta,
pandanglah dengan hening .lihatlah alam itu .semuanya bergerak serentak dengan rencana
yang baik dan sempurna, ia tidak berdaya mengikuti kemauan yang tidak bisa dibendung
dari dalam ..mereka pasrah terhadap gerak yang Yang menggerakkan, mereka tidak bisa menolaknya ..
ada sebuah gerak yang meliputi seluruh alam yang tidak kelihatan,
yang tidak bisa dijangkau oleh mata dan perasaan.
Akan tetapi gerak itu tampak sekali dengan jelas sehingga bumi itu bergerak, matahari bergerak,
tumbuhan bergerak, jantung kita bergerak, atom-atom bergerak.
SEMUA MENGIKUTI GERAK HAKIKI, bukan kehendak kita .
lihatlah sekali lagi dengan seksama, anda akan melihat Yang Menggerakkan,
Yang Hidup, Yang Nyata ( Zhohir), Yang Tersembunyi ( Bathin),
dan Dialah Yang tidak bisa dijangkau oleh kata-kata dan sifat.

Dan bersujudlah kepada yang Tampak itu, bukan kepada alam semesta yang fana,
yang bergantung kepada Sang Hidup, anda akan melihat semua alam bersujud
dengan caranya masing-masing kemudian semuanya bertasbih dengan bahasanya yang khusus .

Kemudian lihatlah yang menggerakkan jantung anda, jangan lihat jantungnya.
tetapi yang menggerakkan itu, yang amat dekat itu, yang hidup itu, yang kuasa itu,
yang lebih dekat dari jantung anda sendiri !!
Maha Suci Engkau..Maha Suci Engkau. Maha Suci Engkau.

**Di sarankan apabila anda belum memahami hal ini, jangan diteruskan.
saya tidak berani mengupas lebih dalam mengenai hakikat takut salah persepsi.
Atau ini cukup dijadikan wacana dan bahan renungan. akan tetapi jika anda penasaran
ingin sampai mencapai keadaan tersebut sebaiknya di rencanakan dengan baik
agar kita memulai dari yang paling dasar dari sisi keTuhanan dan tidak sekedar main-main
mempelajari ilmu hakikat ini apalagi hanya untuk sekedar tahu )

Mudah-mudahan dengan bahasan ini akan mengawali perjalanan kita lebih baik
setelah mengerti Dzat dan arah beragama kita, bukan bergejolak dalam retorika ilmu tauhid
yang tidak ada habisnya.
Akan tetapi mari kita jalani sampai memasuki hakikat yang sebenarnya !

Kesimpulan
Apakah di dalam ajaran tasawuf para sufi harus melalui martabat tujuh ?

Jawab:

Tidak wajib .
Akan tetapi disarankan memiliki wawasan ketuhanan yang baik agar kita tidak mudah
taqlid kepada orang yang menyelewengkan ajaran ini.
Ajaran Martabat tujuh ini baik untuk pegangan atau referensi di dalam perjalanan

menuju Tuhan. disamping ilmu-ilmu yang lainnya sebagai pendukung.
Firman Alloh : Hai Manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu ,
maka pasti kamu akan menemui-Nya (QS . Al Insiqooq:6)

Insya Alloh !!

Berserah Diri

Alloh SWT berfirman dalam Al Qur’an Surat Lukman ayat 22 :
“barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Alloh,
sedangkan dia orang yang berbuat kebaikan,
maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh.
Dan hanya kepada Alloh-lah kesudahan segala urusan.”

Berserah diri adalah menyerahkan jiwa seutuhnya kepada Alloh SWT dengan keyakinan penuh
bahwa Dia Yang Maha Suci dan Maha Pengatur pasti memilihkan yang terbaik bagi manusia.
Berserah diri bukanlah berarti mengabaikan usaha, tetapi justru harus berupaya
sekuat kemampuan yang ada.
Gambaran orang yang berserah diri adalah seperti orang yang menggantungkan
Jiwanya pada Arasy Tuhan, sementara kakinya menapak bumi.
Orang yang berserah diri, ikhlas menerima segala ketentuan, usbah ataupun nikmat
yang dipilihkan oleh Alloh SWT baginya.
Yakin bahwa Dia Yang Maha Pengasih dan Penyayang tidak akan mungkin
bertindak sewenang-wenang ataupun menganiayai hamba-Nya.

Untuk dapat berserah diri, diperlukan sikap mental yang positif.
Dasarnya yaitu kita harus selalu berprasangka baik kepada-Nya.
Meyakini bahwa ketentuan apapun yang ditetapkan-Nya bagi kita merupakan pilihan
yang terbaik yaitu sejalan dengan do’a yang selalu kita mohonkan pada setiap sholat,
yaitu ihdinash shirothol mustaqim.
Ingatlah kembali penegasan Alloh SWT dalam surat Al Anfaal : 51;
“Sesungguhnya Alloh sekali-kali tidak menganiayai amba-Nya.”

Yakinlah bahwa kejadian yang menurut pendapat kita baik, sesungguhnya belum tentu
Benar menurut kaca mata Alloh SWT.
Demikian juga kejadian yang kita anggap buruk, belum tentu salah dalam pandangan Alloh.
Pengalaman telah banyak membuktikan dibalik kejadian buruk yang menimpa,
terdapat hikmah yang berharga.
Alloh SWT menegaskan hal ini dalam surat Al Baqoroh ayat 216;
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;
Alloh mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”

Seorang ahli hikmah mengatakan;
“Janganlah kita memusatkan pandangan hanya kepada tahi lalat
yang ada diwajah seseorang, karena pasti tahi lalat itu  akan tampak buruk;
Tetapi pandanglah wajah orang itu secara keseluruhan, kita akan melihat
justru tahi lalat itu yang menjadi unsur utama kecantikan atau ketampanan seseorang.”

Bagi orang yang berserah diri, Alloh SWT telah berjanji dalam Al Qur’an surat Ath Tholaq :3
“Barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupinya.”

Demikian pula Rosululloh SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad,
Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, beliau bersabda;
“Jika kalian berserah diri kepada Alloh SWT dengan sebenar-benar taqwa,
niscaya Dia menjamin rezekimu sebagaimana Dia menjamin kebutuhan
burung yang terbang di waktu pagi dengan perut kosong
dan pulang di waktu sore dengan perut yang kenyang.”

Kita akan mudah berserah diri bila kita haqqul yakin bahwa kehidupan di dunia ini
adalah kehidupan awal.
Kehidupan yang amat singkat, kehidupan yang penuh dengan kesenangan yang menipu.
Yaitu sebagaimana yang dimaksud Alloh SWT dalam Al Qur’an pada surat Hadiid ayat 20;
Adapun indikator keberhasilan dari berserah diri yaitu tidak adanya rasa was-was,
khawatir ataupun kecewa.
Tetapi yang ada adalah ucapan dengan penuh rasa syukur “Alhamdulillah”
atau dengan penuh ikhlas “Inna lillahi wa inna ilayhi roji’un;
sejalan dengan firman-Nya dalam surat Al Baqoroh ayat 112;
“…Barang siapa yang menyerahkan diri kepada Alloh, sedang ia berbuat kebajikan,
maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

Jelas bagi orang yang berserah diri ia tidak akan mengeluh atau protes kepada Alloh SWT
atas ketentuan yang ditetapkan kepadanya.
Tindakan yang dilakukannya hanya semata-mata karena taat mematuhi perintah-Nya saja.
Dia berlaku baik, bukan sebagai balasan karena orang telah berlaku baik kepadanya,
tetapi kebaikan itu dilakukannya semata-mata karena Alloh SWT memerintahkannya
untuk berbuat kebaikan.
Pandangan batinnya telanjang sebagaimana adanya, tidak ada buruk sangka.
Lirikannya tanpa disertai emosi, jiwanya tidak terguncangkan oleh adanya stimulant
baik yang berasal dari dalam jiwanya sendiri, maupun yang berasal darilingkungannya.
Dia merasakan kaya tanpa harta, sakti tanpa ilmu.
Kunci agar dapat berserah diri kepada Alloh SWT yaitu kita harus selalu berprasangka baik
kepada-Nya.
Berusahalah dahulu dengan segenap kemampuan yang ada, kemudian serahkan hasilnya
Kepada-Nya.
Apapun hasil yang diperoleh dari usaha kita itu, yakinlah bahwa itu merupakan yang terbaik
atau yang paling sesuai dengan kebutuhan kita saat ini, yaitu sejalan dengan;
“ihdinash shirothol mustaqim” yang selalu kita minta pada setiap sholat.
Hendak pula kita ingat bahwa musibah yang menimpa bukanlah untuk ditangisi,
tetapi merupakan isyarat dari-Nya agar kita segera berbenah diri,
melakukan introspeksi adakah aturan main-Nya yang kita langgar.
Hal ini selaras dengan firman Alloh SWT dalam surat Al Maidah ayat 49;
“…bahwa sesungguhnya Alloh menghendaki akan menimpakan musibah
kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka…”

Surat An Nisaa ayat 79;
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Alloh,
dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari kesalahan dirimu sendiri…”

Ddengan berserah diri insya Alloh kita akan terhindar dari segala macam bentuk kekecewaan.
Terlebih lagi urusan kita yang lain pun akan dimudahkan oleh-Nya.

Demikianlah, mudah-mudahan kita mampu menjadi umat Muhammad SAW
yang selalu berserah diri kepada Alloh SWT, menggantungkan harapan hanya kepada-Nya,
serta meyakini bahwa Alloh SWT itu tidak kejam, Ia memutuskan segala sesuatunya
sesuai dengan kebutuhan yang terbaik bagi kita.
Apalagi jelas-jelas Rosululloh SAW telah beramanat kepada kita,
“Janganlah kamu mati melainkan baik sangka terhadap Alloh.”