-

About

javascript:void(0)

Minggu, 19 Februari 2012

Cinta dan Keakraban Ilahi

Keakraban adalah kebersamaan yang dicapai dengan cinta.
Begitu banyaknya kesamaan diri kita dengan Alloh sehingga kita akan merasakan
begitu dekat dengan-Nya.
Diri kita memang tidak bisa dipisahkan dengan-Nya karena kita semua berasal dari-Nya,
Inna lillahi wa inna ilayhi rooji'un.

Seperti laut dan gelombangnya, lampu dan cahayanya, api dan panasnya;
berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan.
Alloh dan makhluk-Nya, berbeda tetapi tak bisa dipisahkan.
Kita tidak bisa mengatakan bahwa laut sama dengan gelombang,
lampu sama dengan cahaya, atau api sama dengan bara,
demikian pula kita tidak bisa mengatakan bahwa makhluq sama dengan Kholiq.
Lautan cinta pada diri seseorang akan mengimbas pada seluruh ruang.
Jika cinta sudah terpatri dalam seluruh jaringan badan kita maka vibrasinya
akan menghapus semua kebencian.
Sebagai manifestasinya dalam kehidupan, begitu bertemu dengan seseorang,
ia tersenyum, sebagai ungkapan dan tanda rasa cinta.
Nikmat sekali bermesraan dengan Alloh SWT.
Kadang tidak terasa air mata meleleh.
Air mata kerinduan dan air mata tobat inilah yang kelak akan memadamkan api neraka.
Air mata cinta akan memutihkan noda-noda hitam dan menjadikannya suci.
Cinta tidak bisa diterangkan, hanya bisa dirasakan.
Terkadang terasa tidak cukup kosakata yang tersedia untuk menggambarkan
bagaimana nikmatnya cinta.
Kosakata yang tersedia didominasi oleh kebutuhan fisik sehingga untuk mencari kata
yang bisa memfasilitasi keinginan rohani tidak cukup.

Terminologi dan kosakata yang tersedia lebih banyak berkonotasi cinta kepada fisik materi,
tetapi terlalu sedikit kosakata cinta secara spiritual.
Mungkin itulah sebabnya mengapa Alloh SWT memilih bahasa Arab
sebagai bahasa Al-Qur'an, karena kosakata spiritualnya lebih kaya.
Kosakata cinta dalam Al-Qur'an menurut ulama tafsir ada 14 kosakata,
mulai dari cinta monyet sampai kepada cinta Ilahi.
Cinta Alloh bersifat primer, sementara cinta hamba sekunder. Primer itu inti, substansi.
Yang sekunder itu tidak substansial. Pemilik cinta sesungguhnya hanya Alloh SWT.
Hakikat cinta yang sesungguhnya adalah unconditional love (cinta tanpa syarat).
Tanpa pamrih ini cinta primer. Ini berbeda dengan cinta kita yang memiliki kepentingan.
Ketika sebelum kawin, masya Alloh, kita sampai kehabisan kata-kata melukiskan
kebaikan pujaan kita.
Akan tetapi sesudah kawin, kata-kata paling kasar pun tak jarang kita lontarkan.

Unconditional love pernah ditunjukan Rosululloh Muhammad SAW
ketika dilempari batu sampai tumitnya berdarah-darah oleh orang Thoif.
Rosul hanya tersenyum. "Aduh umatku, seandainya engkau tahu visi misi yang kubawa,
engkau pasti tidak akan melakukan ini", demikian bisiknya,.
Bahkan ketika datang malaikat penjaga gunung Thoif menawarkan bantuan
untuk membalas perbuatan orang Thoif itu, Nabi berucap, "Terima kasih.
Alloh lebih kuasa daripada makhluk. Jangan diapa-apakan. Mereka hanya tidak tahu.
Kelak kalau mereka sadar, mereka akan mencintai saya".

Nabi Nuh AS pernah menyesal sejadi-jadinya kenapa ia pernah mendoakan umatnya binasa.
950 tahun ia berdakwah mengajak kaumnya ke jalan Alloh,
namun hanya segelintir yang mengikuti ajakannya.
Yang lainnya ingkar sehingga Nabi Nuh berdoa kepada Alloh agar dikirimkan bencana
kepada kaumnya yang ingkar itu.
Maka datanglah banjir besar yang menenggelamkan mereka,
sedangkan Nuh dan para pengikutnya sudah mempersiapkan diri dengan membuat perahu.

Ada sebuah ungkapan dari ahli hakikat:
"Kalau cinta sudah meliputi, maka tak ada lagi ruang kebencian di dalam diri seseorang.
Sejelek apapun dan kasarnya orang lain, ia tak akan membalas dengan kejelekan."
Banyak ulama besar kita telah mencapai tingkatan itu.
Imam Syafi'i pernah "dikerjai" oleh seorang tukang jahit saat memesan pembuatan baju.
Lengan kanan baju itu lebih besar/longgar dibanding lengan kirinya yang kecil dan sempit.
Imam Syafi'i bukannya komplain dan marah kepada tukang jahit itu, malah berterima kasih.
Kata Imam Syafi'i, "Kebetulan, saya suka menulis dan lengan yang lebih longgar ini
memudahkan saya untuk menulis sebab lebih leluasa bergerak".

Indah hidup ini kalau tidak ada benci. Ini bukan berarti kita harus menahan marah.
Yang kita lakukan adalah bagaimana menjadikan diri ini penuh cinta
sehingga potensi kemarahan kita berkurang.
Kita punya hak untuk marah, dan itu harus diungkapkan dengan proporsional.
Jangan karena makanan sedikit kurang enak lalu marah. Istri salah sedikit marah.
Banyak hal yang membuat kita marah. Akan tetapi, selesaikah persoalan dengan marah?

Semakin meningkat kadar cinta maka semakin mesra pula belaian Alloh SWT.
Bagaimanakah nikmatnya belaian Alloh SWT ?
Bayangkanlah seorang bayi yang dibelai ibunya. Tersenyum, dan sekelilingnya menggoda.
Itu baru belaian makhluk. Apalagi belaian Sang Pencipta.
Kita pun akan semakin akrab dengan Alloh, dan semakin tipis garis pembatas alam gaib
di hadapan kita sehingga semua rahasia akan terkuak dan semakin banyak keajaiban
yang kita lihat.
Seperti sepasang kekasih yang saling mencintai, masih adakah rahasia antara keduanya?
Ruh sifatnya tinggi dan cenderung dekat dengan Alloh.
Raga sifatnya rendah dan jauh dari Alloh. Ruh itu terang, sedangkan raga gelap.
Para sufi mengungkapkan, "Wahai raga, sibukkan dirimu dengan sholat dan puasa.
Wahai qolbu, sibukkan dirimu dengan bisikan munajat kepada Alloh.
Wahai raga, ungkapkan iyyâka na'budu. Wahai qolbu, ungkapkan iyyâka nasta'în."
Ta'abbud mendaki ke atas, sedangkan isti'ânah turun ke bawah.
Yang melakukan ta'abbud adalah hamba, sedangkan isti'ânah adalah Tuhan.
Siapa yang naik akan memancing yang di atas untuk turun menyambut.
Kalau tidak pernah naik, jangan harap akan ada yang turun.

Indah perjumpaan itu.
Ada ketakutan dan ada harapan. Kadang kita takut kepada Alloh, tetapi juga kita berharap.
Ada al-khosya dan ada ar-roja'. Di balik ketakutan sehabis berdosa ada harapan
bahwa kita akan diampuni, ada keinginan bersama Alloh kembali.
Maka lahirlah tobat. Seperti pendaki gunung yang tak pernah bosan, naik ke atas,
terperosok ke bawah, naik lagi, terperosok, dan naik lagi.
Semakin tinggi pendakian itu semakin licin dan sulit. Begitulah cobaan bagi manusia.
Semakin tinggi kedudukan seseorang maka cobaannya semakin berat.
Namun, cobaan itu jangan membuat kita putus asa.
Jika kita terus mendaki, pasti kita akan sampai ke puncak.

Ada ketakjuban dan ada keakraban. Ketakjuban itu ada jarak.
Untuk mengagumi suatu objek, kita harus mengambil jarak dari objek itu.
Indahnya sebuah lukisan hanya akan terasa jika kita agak jauh dari lukisan itu.
Keakraban itu tidak ada jarak, atau sangat dekat sekali.
Inilah kita dengan Tuhan. Akrab tetapi takjub.

Ada pemusatan dan ada penyebaran. Alloh Maha Esa. Kita fokus ke situ.
Akan tetapi, apa yang dilihat panca indera itu beragam dan beraneka.
Namun, semuanya terhubungkan dengan Alloh.

Warna-warni yang kita lihat di alam semesta ini sumbernya satu, Alloh Yang Esa.
Ada kehadiran dan ada ketiadaan. Ini lebih menukik.
Satu sisi kita merasakan Alloh hadir dalam diri kita, di sisi lain hampa.
Kadang kita kosong, kadang penuh. Kadang Dia muncul, kadang tiada.
Dia adalah Maha Ada, meski tak terlihat.
Dan yang terlihat ini sebetulnya adalah  manifestasi dari Yang Ada.
Ketiadaan di sini bukan berarti menafikan.

Ada kemabukan dan ada kewarasan.
Yang bisa memabukkan bukan hanya alkohol dan narkoba.
Ada mabuk positif dan ada mabuk negatif.
Mabuk bagi seorang sufi adalah super sadar (di atas kesadaran).
Kesadaran seperti ini susah dijelaskan. Ketika kita sedang bermesraan dengan Alloh,
menangis di atas sajadah, terisak-isak, orang lain mungkin melihat kita sedang tidak sadar.
Akan tetapi, sebenarnya kita sangat sadar, bahkan kita sedang berada di puncak bersama Alloh.
Ketika mencintai seseorang saja kita bisa mabuk, begadang semalaman, membuat surat,
dan lain-lain. Berkhayal, berimajinasi, membayangkan si dia hadir bersama kita.
Bagaimana mabuknya kalau kita mencintai Alloh ?
Seorang sufi yang sedang mabuk kepada Alloh, suka mengungkapkan ucapan-ucapan
yang terdengar aneh di mata orang lain (syathohat).
Misalnya "tak ada di dalam jubahku ini selain Alloh".
Berarti dalam jubah itu ada dua sosok yang bergumul menjadi satu, hamba dan Tuhan.

Atau ungkapan subhânî subhânî  (Maha Suci aku). Aku adalah Alloh, Alloh adalah aku.
Aku ini siapa? Tak ada. Yang ada hanyalah Alloh.
Hanya Alloh lah yang wujud. Selain itu hanya efek dari yang wujud.

Ada penafian dan ada penetapan.
Kadang kita ragu, benarkah yang datang di dalam kalbu ini Alloh?
Jangan-jangan bukan, tetapi hanya imajinasi saja.
Di sini terjadi pertentangan antara rasio dan rasa.
Maka untuk meyakinkannya, kecilkan rasio dan besarkan rasa.
Yakinilah bahwa kita telah mendaki, dan kita sudah sampai puncak.
Maka yang kita jumpai pastilah Alloh. Maka akan ada penampakan.
Dan segala rahasia ghoib pun tersibak.

Berhenti Sejenak

Perjalanan hidup ini melelahkan, ya sangat melelahkan.
Betapa tidak, di saat idealisme kita dihadapkan pada realita yang beraneka ragam
corak dan warnanya, kita harus bertahan karena kita tidak ingin tujuan hidup kita
yang jauh ternodai dengan kepentingan sesaat.
Ini bukan soal halal atau haram terhadap dunia dengan segala keindahannya,
tapi soal menyikapinya agar tidak tergiur dan terpedaya olehnya.

Gambaran ini dapat kita rasakan di saat harus mengatakan “tidak” di hadapan
mereka semua yang berkata “iya”.
Ketika ramai-ramai orang bicara ini dan itu dengan segala argumentasinya,
tuntutan idealisme kita membisikkan kita untuk “diam”, tatkala orang lain menilai
bahkan mengecam kita dengan tuduhan ini dan itu, idealisme kitapun hanya mengisyaratkan
kita untuk sekedar senyum tanpa kata-kata.
Di saat orang beretorika dengan segala keahlian bahasanya, idealisme kitapun hanya
meminta kita untuk membaca pikiran di balik pikiran.
Dan ketika orang ramai-ramai memperbincangkan dunia dengan segala kenikmatannya,
idealisme kitapun hanya mengalunkan satu kata, “qonaah”.
Itulah idealisme kita di hadapan mereka.
Terkadang tanpa terasa idealisme kita tergeser lantaran pikiran kita terbawa arus
yang kita tidak menyadarinya.
Belum lagi kondisi jiwa kita yang terus bergejolak mempengaruhi pikiran kita,
pikiran-pikiran itu selalu datang silih berganti tanpa kenal henti seiring
dengan perjalanan hidup ini.

Memang, ini semua kita pahami sebagai sunnah kehidupan.
Gelombang dan badai harus dipahami sebagai ladang ujian, problematika hidup merupakan
hal tidak bisa dipisahkan dari hidup, pahit getir menjadi bumbu yang harus dirasakan oleh
setiap kita, jatuh bangun adalah tangga yang harus dilalui dalam menggapai sebuah cita-cita.
Letih, lelah itulah yang sering kita rasakan, kita sering merasakan kejenuhan,
bosan bahkan tidak peduli dengan kondisi.
Namun jangan pernah ada perasaan pesimis apalagi putus asa karena di balik semua itu
pasti ada sesuatu yang dapat kita jadikan pengalaman yang berarti.
Dan yang kita perlukan adalah berhenti sesaat, berhenti bukan berarti selesai atau sampai di sini.
Berhenti untuk merenungi kembali perjalanan yang telah kita lalui,
berhenti untuk memompa kembali semangat beramal,
berhenti untuk mencas batere keimanan kita agar tidak redup.

Kita butuh waktu untuk melihat kondisi jiwa kita agar tetap stabil dan tahan
dalam menghadapi segalanya.
Kita terkadang lupa bahwa ada yang harus kita tengok dalam diri kita, “ruhiyah” kita.
Kondisi ruhiyah kita yang selalu membutuhkan suasana yang teduh, tenang
sehingga ia menjadi kekuatan yang akan melindungi jiwa kita dari berbagai rintangan
yang akan menghalangi kita.
Kita memerlukan nuansa ruhiyah yang nyaman agar dapat berpikir jernih
dan tetap semangat menjalani hidup ini.
Kita butuh ketegaran jiwa dalam menghadapi hiruk pikuk hidup.

Inilah yang senantiasa diajarkan oleh Muadz bin Jabal RA kepada sahabatnya
dengan ungkapannya yang menyejukkan hati “mari duduk sesaat untuk beriman”.
Berhenti sejenak untuk menengok kembali kondisi keimanan agar tetap terjaga.
Karena segala yang kita alami dalam hidup harus dihadapi dan bukan lari darinya,
ingatlah bahwa lari dari masalah tidak akan menyelesaikan masalah itu,
bisa jadi justru akan menambah masalah baru.
Memperbaharui keimanan akan membawa kita untuk memahami hakekat hidup ini
dengan segala problematikanya.
Mari kita sempatkan untuk selalu memperbaharui keimanan kita ditengah kesibukan
dan hiruk pikuk kehidupan

Minggu, 05 Februari 2012

Percaya Diri


Percaya diri itu bukan ditentukan oleh tampilan fisik.
Sayangnya banyak orang yang masih berpikiran bahwa kepercayaan diri
datang dari tampilan fisik.
Jika Anda terbebas dari kesalahan ini, maka peluang Anda untuk memiliki
rasa percaya diri sesungguhnya lebih terbuka.

Bagaimana bisa memiliki rasa percaya diri, jika pemahamannya saja masih salah?
Kesalahan terbesar itu ialah saat kita mengandalkan kepercayaan diri
kepada tampilan fisik.
Yang dimaksud fisik disini ialah baik tubuh kita maupun pakaian atau asesoris yang dipakai.
Memang pakaian, kendaraan, perhiasan, atau asesoris bisa meningkatkan kepercayaan diri,
tetapi ini bukanlah yang utama, hanya “bumbu”.

Percaya diri sesungguhnya berbicara tentang semua potensi diri Anda.
Bukan karena pakaian atau kendaraan Anda.
Percaya diri meliputi ilmu, kemampuan berpikir, kemampuan belajar, keterampilan,
dan berbagai potensi diri Anda yang lainnya.

Banyak orang yang tidak memiliki pakaian dan kendaraan mewah,
tetapi dia tetap percaya diri.
Dia bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan tanpa terhalang oleh
kekurangan materi yang dia miliki.

Yang kedua adalah masalah fisik yang meliputi tubuh dan wajah.
Anda tahu dr Maltz? Dia seorang ahli bedah plastik yang beralih profesi
jadi guru pengembangan diri. Kenapa?
Karena banyak orang yang meminta dioperasi plastik untuk meningkatkan
kepercayaan diri, padahal masalahnya bukan di fisik.
Setelah dia memberikan konsultasi, banyak diantara mereka membatalkan operasinya.
Mereka bisa menjadi lebih percaya diri tanpa harus dioperasi.
Yah… dia semakin pandai membuat orang tidak dioperasi,
padahal itu adalah profesinya.

Sering kali, orang yang ingin merubah fisik hanya karena “opini”,
baik dari diri sendiri maupun pengaruh dari pihak-pihak yang mengambil keuntungan
dari perubahan fisik tersebut.
Sejatinya… kepercayaan diri tidak ditentukan oleh ukuran fisik.

Banyak orang yang memiliki kekurangan secara fisik,
namun mereka tetap menjalankan hidup seperti orang lain yang tidak cacat.
Bahkan sebagian mereka juga, sukses besar mengalahkan kebanyakan orang yang normal..
Masihkah Anda mengandalkan fisik?
Silahkan Anda tampil sebaik mungkin, tapi itu bukan yang utama,
kepercayaan diri itu sebenarnya muncul dari dalam diri Anda.

Jalani Hidup dengan Optimis


Syammir wa jidda li-amrin anta tholibuhu,
Idz laa tunalul ma’ali qoththu bil kasali.

Tidak ada satupun bagi kita untuk bersikap pesimis didunia ini.
Tuhan menganugerahkan begitu banyak nikmat, kelebihan, rahmat dan rezeki
bagi kita sesuai dengan apa yang telah kita kerjakan.
Dengan segala kenikmatan itu, kita mempunyai potensi yang besar untuk mewujudkan
apa yang kita inginkan.
Lihatlah disekeliling kita, betapa banyak orang yang mempunyai kekurangan
dalam berbagai hal, tetapi dengan kesungguhan mereka mampu mewujudkan
apa yang mereka cita-citakan.
Mereka mempunyai mimpi dan kemudian bekerja keras untuk mewujudkannya.
Pesimisme muncul jika kita tidak mampu mengelola kemampuan kita,
dan menyalahkan segala sesuatu jika impian itu tidak tercapai atau lingkungan kita
tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.
Padahal inti dari semua itu ada dalam diri kita sendiri, orang-orang yang pesimis
melihat segala sesuatu sebagai sebuah hambatan yang menjadi beban bagi kesuksesan
yang mereka tuju.
Padahal belum tentu hambatan-hambatan tersebut nyata, terkadang hanya ada
dipikiran mereka saja.
Karenanya optimism mesti ada dalam diri kita agar apa yang akan kita lakukan
membawa jalan kesuksesan.
Tanpa optimism sulit bagi kita untuk mengarungi berbagai kehidupan
dengan tantangannya yang semakin sulit.
Untuk membangun sikap optimis, kita perlu memahami bahwa semua yang ada
dalam diri kita ada manfaatnya.
Pemahaman itu akan membawa kita pada proses melakukan analisis mengenai
kekuatan yang kita miliki dan bagaimana menggunakan kekuatan tersebut
dalam kehidupan sehari-hari.
Pemahaman akan kekuatan yang kita miliki menjadikan kita percaya diri
untuk mulai melakukan sesuatu.
Setiap orang diciptakan dengan kekuatan dan kelemahan masing-masing,
memahami kekuatan dan kelemahan yang dimiliki akan menjadikan kita
lebih mengenal mana yang bisa kita lakukan dan mana yang tidak bisa dilakukan.
Hal itu juga menjadikan kita mengetahui secara lebih pasti dibidang apa saja
kita bisa bekerja lebih unggul dibandingkan yang lain.
Selanjutnya perlu ada keyakinan dalam diri kita bahwa jika orang lain bisa melakukan,
kita juga bisa melakukan hal yang sama, mereka makan nasi, begitu juga kita.
Akan terpatri dalam diri kita bahwa kita mampu melakukan sesuatu dengan baik
kalau ada orang yang mampu melakukannya.
Setiap orang pada dasarnya mempunyai kesempatan yang sama, yang membedakan adalah
ada orang yang berani mengambil kesempatan yang dimilikinya, karena percaya
dengan kemampuannya, sementara orang lain tidak berani mengambil kesempatan
yang ada karena tidak mempunyai kepercayaan diri bahwa ia mampu melakukan hal tsb.
Jangan pernah merendahkan kemampuan kita sendiri, salah satu kecenderungan negative
yang sering dilakukan seseorang adalah apa yang disebut sebagai ‘under estimate’
(meremehkan, merendahkan) kekuatan yang dimilikinya.
Akhirnya hal itu menimbulkan rasa rendah diri yang tidak perlu pada saat melakukan sesuatu.
Contoh yang sering terjadi adalah bahwa pada saat kita ingin melakukan sesuatu,
diawal kita sudah terlebih dahulu takut dan tidak berani melakukan karena banyak hal ;
“Merasa belum cukup umur, tidak berbakat, tidak berpengalaman, takut tidak bisa,
atau takut mengecewakan.” dan berbagai  ketakutan lain yang sifatnya merendahkan diri.
Pikiran semacam itu menjadi  belenggu bagi diri sendiri untuk melihat dan memanfaatkan
peluang yang tersedia.
Kemauan dan kemampuan yang sudah ada pada diri sendiri terhambat oleh pemikiran sempit
yang celakanya ditimbulkan oleh diri sendiri.
Belenggu pemikirab semacam ini harus terlebih dahulu disingkap, dihilangkan jauh-jauh
dari pikiran kita, sehingga potensi dan kesempatan yang terbuka didepan kita
bisa dimanfaatkan secara maksimal.
Jangan pernah menyerah, karena akan selalu ada harapan.
Hidup ini akan selalu menghadapi berbagai persoalan yang terkadang datang silih berganti
hingga suau saat mungkin kita merasa berada pada satu titik dimana kita tidak bisa lagi
menghadapi beban persoalan tersebut.
Terkadang disaat kritis tersebut kita menghadapi dilemma besar.
Sebuah pertanyaan muncul dihadapan kita; bisakah kita bertahan ? haruskah kita menyerah ?
Dalam kondisi semacam ini, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah “melawan”
semua kemungkinan kita menyerah.
Tanamkan dalam diri kita bahwa kita akan melakukan usaha sampai batas akhir
dimana kita tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
Biasanya orang yang dalam keadaan terdesak akan mampu mengeluarkan potensi
dan kekuatan jauh lebih dahsyat dibandingkan saat ia dalam keadaan normal.
Artinya, sebenarnya jika hal itu ia lakukan dalam keadaan sadar, ia juga bisa melakukan
hal yang sama, menarik kekuatan dirinya sampai batas yang paling memungkinkan.
Orang yang dikejar anjing misalnya, terkadang bisa melakukan hal-hal yang luar biasa,
yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Dengan reflek ia bisa berlari sekencang-kencangnya atau melewati pagar yang tinggi,
meloncati parit, berenang disungai, atau melakukan berbagai hal lain
yang bisa jadi sebelumnya belum pernah ia lakukan.
Orang yang terjebak dalam sebuah kebakaran besar dirumahnya, saat ia terkurung api
ia bisa melakukan berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.
Bisa jadi ia bisa menerobos kaca, membuka terali besi dan menerobos lingkatan api
untuk bisa menyelamatkan diri atau orang yang dicintainya.
Ketika ada dorongan dalam dirinya yang sangat kuat untuk melakukan sesuatu,
saat itulah ia bisa berkonsentrasi dan mengumpulkan potensi yang ada dalam dirinya
untuk melakukan berbagai hal yang terkadang tidak mungkin dilakukan sebelumnya.
Jika kita mendapatkan suatu prestasi sekecil apapun prestasi itu, syukuri dan nikmatilah.
Prestasi semacam itu akan memberikan gambaran bahwa kita pun bisa melakukan
sesuatu jika kita berusaha dengan keras.
Gambaran semacam itu akan memberikan kekuatan untuk melakukan kerja dan karya
yang lebih besar lagi, begitu seterusnya sehingga semakin lama prestasi yang kita dapatkan
semakin besar dari sisi kualitas dan kuantitas.
Jika perlu berilah reward untuk diri sendiri atas prestasi yang telah didapatkan,
rayakan prestasi tersebut, belikan hadiah terbaik untuk diri sendiri, atau berikan istirahat
dan relaksasi bagi tubuh anda, karena telah mau diajak bekerja keras mendapatkan
prestasi tersebut.
Dengan demikian, anda merasakan betapa pentingnya diri anda sendiri bagi orang-orang
disekitar anda, dan anda mampu menyumbangkan sesuatu bagi mereka.
Harus disadari pula bahwa kepercayaan diri yang tinggi merupakan dua sisi pedang
yang saling terkait,.
Disatu sisi kepercayaan diri yang tinggi akan sangat membantu seseorang dalam
mengembangkan diri dan belajar dari lingkungannya secara cepat,
tetapi disisi lain harus dijaga agar kepercayaan diri yag tinggi ini tidak mengarah
kepada sebuah kesombongan.
Jika kepercayaan diri mampu mendorong terciptanya proses pengembangan diri
secara lebih baik, hal itu menjadi nilai positif yang harus dikembangkan.
Tetapi sebaliknya perlu kehati-hatian agar kepercayaan diri yang tinggi itu
tidak mengarahkan seseorang kepada kesombongan sehingga tidak mau lagi
memperbaiki diri jika ada kekurangan atau kesalahan.

Sabtu, 04 Februari 2012

AL - FATIHAH. ( JAWA )

AL FAATIHAH ( BEBUKA )
Surat kaping 1 : 7 ayat
( Tumuruning wahyu ana ing Mekkah, tumurun sawuse surat Al-Muddatstsir )

Bahasa Arab :
1. Bismillaahir rohmaanir rohiim
2. Alhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin
3. Arrohmaanir rohiim
4. Maaliki yaumid diin
5. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin
6. Ihdinash shiroothol mustaqiim
7. Shiroothol ladziina an’amta ‘alayhim, ghoiril maghdhuubi ‘ alayhim waladh dhool-liin

Bahasa Jawa :
1. Kalawan asma Alloh kang Maha Murah ugi Maha Asih.
2. Kabeh pangalembana kagunganing Alloh Pangeran,
    Sesembahaning ‘ alam jagad-rat pramudita.
3. Kang Maha Murah Maha Asih.
4. Kang Ngratoni ing dina Piwelas.
5. Namung dhumateng Paduka piyambak kita sami menembah ‘ ibadah,
    saha namung dhumateng Paduka piyambak kita sami anyenyadhong pitulungan.

6. Dhuh Gusti Alloh, mugi Paduka paring pitedah ing kita sadaya lumampah wonten
     ing margi ingkang leres.

7. Inggih punika margi, Agaminipun para tetiyang ingkang sampun Paduka paringi kani’matan,
    sanes ingkang sami kabendon, tuwin sanes ingkang sami sasar.

Isi maksud ingkang wigatos ing Surat Al-Faatihah :
Intisari saking isinipun Al-Quraan punika sampun kaweca pokok-pokok ingkang
fundamentil wonten salebeting Surat Al Faatihah, kados kasebut ing ngandhap punika :

1.      Bab ‘aqoid utawi kaimanan ; punika kuwajiban ingkang wiwitan kaampil,
ingkang dipun da’wahaken dening junjungan kita Nabi Muhammad SAW,
makaten ugi dening para andika Rosul saderengipun. Ingkang baku inggih punika
‘aqidah-tauhid ( memundhi saha mangeran namung dhumateng Panjenanganipun Alloh
piyambak )
‘Aqidah-tauhid wau dados jejering piwucal Agami, sadaya para andika Nabi
Utusaning Alloh kautus ngampil tugas-pokok mbangun Tauhid ing Alloh,
sarta ngrebahaken sadaya kamusyrikan, ugi ngajak Ummatipun supados samia
‘ibadah ( manembah ) ing Alloh piyambak, lan nilar sadaya brahalanipun.

2.       ‘Ibadah ; utawi ngumawula lan manembah ing Alloh, ingkang kuwajiban sadaya titah,
             langkung-langkung manungsa ( sabab manungsa punika makhluk ingkang saged
             damel kabudayan wonten ing ‘ alam donya ).
             Ingkang baku wonten sekawan, inggih punika : Sholat, Zakat, Shiyam lan kesah Haji.
             Saking ingkang baku kasebut, lajeng tuwuh ‘ibadah memuji, ndedonga,
             dzikir lan tafakkur utawi I’tikaf ing masjid.
             Saking zakat lajeng tuwuh ‘ ibadah qurban sidqoh, wewehe lan tetulung ing sasaminipun,
             lan saking Shiyam tuwuh watak Wira’i (mboten ndremis lan mboten kathah sesambat )
            sumingkir saking ingkang nama lelangkungan ( gesang prasaja ).
            Lajeng saking Haji tuwuh semangat ambelani sarta labuh ing agami.   

3.      Angger- angger Hukum lan Pernatan- pernatan : maksudipun Syari’at Islam damel
angger-angger hukum lan pranatan punika kangge karaharjaning ummat manungsa
ing Donya dumugi ing Akheratipun.
Pramila ing salebeting Qur’an ngemot pinten-pinten norma lan katamtuwan,
upami hukum, politik, tatanagari, sosial, ekonomi, perang, dahme,
sesambetan internasional, kabudayan sarta kesenian, agami,
sesambetaning manungsa kaliyan Alloh, lan lingkungan sapiturutipun.

4.      Janji sarta ancaman : artosipun supados ngadeg keadilan lan keleresan ingkang saestu,
sanajan wonten Donya saged lolos saking hukuman, nanging wonten ngarsaning Alloh
ing dinten Qiyamat tantu mboten saged lolos malih.

5.      Sejarah : maksudipun ingkang saged dados tepa-palupi ing salebeting sesrawungan
ummat manungsa, sampun ngantos damel sejarah awon,
gesang sapisan wonten ing ‘ alam Donya.