-

About

javascript:void(0)

Sabtu, 14 Januari 2012

Bersihkan Hati

Wahrish ‘ala hifzhil quluubi minal adza
Faruju’uha ba’dat tanaafuri yash’ub.
Innal quluuba idza tanaafaro wudduha
Syib-huz zujajati kasruha laa yus’ab.

Dan jagalah harimu dari penyakit-penyakitnya,
sulit mengembalikan hati yang sudah jauh dari kebenaran.
Sesungguhnya hati jika sudah kotor,
membersihkannya laksana mengumpulkan kaca pecah berserakan.

Salah satu kelebihan yang diberikan kepada manusia dibandingkan makhluk lainnya
adalah kemampuan manusia untuk berpikir.
Manusia mempunyi akal yang mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,
dan mampu memberi arahan kemana tubuh ini akan pergi.
Dengan akal inilah manusia membedakan diri dari hewan,
walaupun di beberapa segi kehidupan terdapat “naluri” yang mirip antara
manusia dan hewan, sehingga manusia disebut sebagai”hewan yang berpikir atau berakal”
yang dengan akalnya, manusia dituntut mampu mengelola naluri tersebut,
agar tidak terjatuh dan terbawa dalam naluri kehewanan yang terdapat pada dirinya.
Naluri kehewanan inilah yang sering disebut sebagai nafsu, dan kehidupan manusia
di dunia ini selalu dipenuhi dengan perang akal dan hawa nafsu.
Akal adalah panglima yang menentukan baik-buruk seseorang,
akal mendorong manusia berbuat sesuatu di dunia ini.
Setiap hari manusia didorong menggunakan dan mempertimbangkan akal sehat
yang dimilikinya dibandingkan menggunakan nafsu belaka.
Pertimbangkan akal sehat harus mampu dikedepankan agar hidup manusia
tidak terjebak dalam nafsu hewani yang sudah terdapat dalam dirinya.
Pertarungan yang hebat antara akal dan hawa nafsu yang terjadi sepanjang
kehidupan manusia inilah yang menjadikan manusia mempunyai potensi
memiliki derajat yang lebih tinggi dibandinkan dengan makhluk lainnya.
Tidak sebagaimana malaikat yang hanya diberi sifat ketaatan kepada Alloh SWT,
manusia diberikan pilihan apakah ia ingin berbuat baik atau ingin berbuat jahat.
Kedua kekuatan ini bertarung keras dalam kehidupan manusia,
dan manusia itu sendiri yang pada akhirnya akan menentukan jalan yang akan ditempuh.
Manusia bisa diangkat derajatnya ketingkat yang lebih tinggi dibandingkan makhluk lain,
tetapi di sisi lain manusia juga bisa memilih untuk menjerumuskan diriya sendiri
kejurang kenistaan yang dalam, bahkan lebih dalam daripada binatang
dan makhluk lainnya.

Hidup manusia adalah perjuangan untuk memenangkan pertarungan suci antara akal
pikiran yang sehat dengan hawa nafsu yang dimilikinya.
Pertarungan ini akan terus terjadi sepanjang hidup, maka manusia tidak boleh lengah
untuk selalu waspada akan hawa nafsu yang setiap saat menggoda.
Manusia boleh memenangkan akal pikirannya pada hari ini, tetapi sekali ia lengah…
bisa jadi ia akan khilaf dan terjerumus di keesokkan harinya.
Perlu ada perbaikan terus menerus terhadap hati dan pikiran kita,
Sehingga setiap saat bisa selalu waspada terhadap godaan nafsu yang ada disekeliling kita.
Untuk bisa memulai pertarungan dengan hawa nafsu dalam kehidupan sehari-hari,
orang mesti mulai mengupayakan kebersihan hati dan piirannya.
Mulailah untuk membersihkan hati dan pikiran dari berbagai sifat dan pikiran negative
tentang orang lain atau lingkungan sekitar, sehingga apa yang kita lakukan
dan kita kerjakan juga bersih.
Hati dan pikiran yang bersih akan menjadi awal yang baik bagi terbentuknya iklim
dan lingkungan yang positif.
Dengan keterbukaan dan kebersihan hati, orang akan saling percaya
sehingga menimbulkan harmonisasi lingkungan dan alam.

Hati dan pikiran yang bersih juga akan menimbulkan energy positif yang bisa menjadi
modal berharga untuk meningkatkan produktifitas.
Energy positif itu tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga akan menyebar
kepada orang-orang dan lingkungan disekeliling kita.
Energy positif yang melingkupi kehidupan itu akan membawa produktifitas yang lebih tinggi.

Disitulah Islam mengajarkan agar sebelum memulai sesuatu kita mengawalinya
dengan niat yang baik, niat yang bersih.
Niat yang baik ini menjadi penting, karena akan menentukan hasil akhir
dari suatu perbuatan.
Satu orang mungkin sama-sama bekerja dengan orang lain, membuat suatu produk
yang sama, tetapi bisa jadi hasilnya akan berbeda karena sangat dipengaruhi oleh niatnya.
Dua orang yang sama-sama membuat roti misalnya, tentu akan mendapat hasil berbeda
jika yang satu berniat dengan tulus untuk membahagiakan keluarganya,
sementara yang lain melakukannya karena terpaksa, hanya karena disuruh oleh suaminya.
Niat yang baik akan mempengaruhi kondisi psikis seseorang, sehingga menimbulkan
energy dan kreatifitas yang mungkin belum terpikirkan.

Niat yag baik adalah niat yang dipenuhi oleh keinginan untuk berbuat baik,
bagi diri sendiri dan orang lain.
Niat yang baik dan tulus meniadakan keinginan untuk berbuat negative atau kerusakan
dari apa yang akan diperbuatnya.
Tidak ada sama sekali terbersit bahwa apa yang diperbuatnya akan dilakukan untuk
membuat kerusakan dilingkungan sekitar.
Niat yang baik menebarkan kebaikan bagi semua, karena prinsip hidupnya adalah,
Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik
dan paling bermanfaat bagi orang lain.

Kebaikan itu memancar dari diri endiri kepada lingkungannya.
Jika seseorang dipenuhi dengan niat kebaikan dalam mengerjakan sesuatu,
kebaikan itu bisa menular kepada orang-orang dan lingkungan sekitarnya,
sehingga secara bergelombang akan menimbulkan efek bola salju kebaikan
yang semakin lama semakin membesar.
Jadi, apapun yang akan kita kerjakan…mulailah dengan niat tulus dan ikhlas
agar apa yang kita kerjakan mendapatkan kebajikan, baik bagi diri sendiri
maupun orang-orang disekitar kita.

Hati dan niat yang bersih akan membawa seseorang pada semangat
dan kualitas hidup yang bersih pula.
Dengan demikian, apa yang akan dihasilkan dari niat bersih akan pula
menghasilkan karya yang baik dan bermanfaat.

0 komentar:

Posting Komentar