-

About

javascript:void(0)

Selasa, 24 Januari 2012

Kesabaran Seorang Isteri

Sebenarnya apa tugas utama seorang Istri ?
Mengurus rumah, mengurus semua kebutuhan suami, mengurus anak2.

Apa hanya itukah Tugas Seorang Istri ?
Lalu, bagaimana dengan Tugas Seorang Suami ?

Hanya mencari nafkah dan jadi Kepala Keluarga semata?
Bagaimanakah kalau Laras sebagai seorang istri yang juga bekerja mencari nafkah ?
Atau mungkin dibalik saja Laras yang menjadi kepala keluarga mencari nafkah
dan mencukupi semua kebutuhan rumah tangga sedangkan Hanafi suaminya

hanyalah pengangguran ? Apa yg suami lakukan ?
Hanafi mencoba melamar2 pekerjaan tapi, tak kunjung jua mendapatkan pekerjaan
yang pasti dan tetap sedangkan Laras yang sudah lebih dahulu memiliki pekerjaan yang tetap
harus membanting tulang mencari nafkah seharian.
Capek, Lelah, yang istri rasakan dengan seabrek masalah yang dihadapi di kantornya.
Belum lagi setibanya di rumah dia harus tetap mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga
seperti memasak, mencuci baju, mengepel, menyetrika baju dan masih banyak lagi

hingga tengah malam dia baru bisa istirahat.
Padahal yang selalu ada dibenak sang istri begitu dia sampai di rumah dia bisa istirahat
menghilangkan lelah seharian bekerja sembari nonton tv dan tidur cepat
hingga keesokkan harinya bisa fresh.
Tapi, apa yang didapatkan sang istri? Rasa lelah yang berkepanjangan.


Lalu, kemana dan ngapain aja sang suami seharian ?
Memang Hanafi sering membantu pekerjaan Laras di rumah.
Dia bereskan semua pekerjaan rumah tangga sehingga sang istri pulang bisa istirahat total.
Dibuatkannya air panas untuk mandi Laras, dibuatkannya teh hangat dan dia siapkan
makan malam untuk istrinya tercinta.
Terkadang pijitan2an sayang dia berikan untuk istri tercintanya

hingga istrinya tertidur dengan lelap.
Oh…sangat pengertiannya suamiku mungkin hanya ini yang ada dibenak Laras.
Laras adalah seorang wanita yang sangat sabar dalam menghadapi suaminya
yang pengangguran, dia sama sekali mementingkan kebutuhannya meski hanya sekedar
untuk memanjakan diri ke salon atau untuk beli baju baru.
Tetapi, yang dipikirkan selalu suaminya asalkan suaminya bisa makan dan punya pakaian
yang bagus dia pun ikut bahagia.
Kebahagiaan suaminyalah yang paling penting untuk Laras.
Meski dia sangat jarang sekali suaminya tiap bulan mengajaknya beli bajukah,
atau makan di restoran itu bukanlah hal yang penting buat Laras karena suaminya

orang yang sangat senang dengan masakan istrinya.
Tetapi, kehidupan ekonomi tak bisa ditutupi terkadang Hanafi emosi yang gak jelas
malah kadang seperti anak kecil terlebih lagi apabila Hanafi sedang punya uang
dan Laras tak punya uang sepeser pun hanya tinggal untuk transportasi saja.
Istrinya rela bangun pagi2 untuk memasak makan sang suami dan bekalnya ke kantor
lumayanlah ngirit uang makan.
Laras tetap sabar dan ikhlas menjalani hari2nya, meski sangat jauh berbeda dari teman2nya
di kantor yang masih bisa jajan atau makan enak.
Di suatu pagi menjelang Laras berangkat kerja
Tiba2 si suami berkata “kamu kok berangkatnya selalu telat?”
Laras menjawab “aku punya waktu sampai jam 8.15 mas dan gak ada masalah
karena bukan hanya aku saja yang telat.”
Tiba2 si suaminya berkata “kamu jangan memandang orang lain terus,
ukur diri kamu sendiri gak usah ikut2an, kamu tak tinggal lho (berangkat duluan)”

dengan nada kesal istrinya menjawab “tinggal aja sana”
Suaminya langsung pergi tanpa pamit dan Laras pergi kerja dengan rasa kesedihan
dengan rasa yang aneh terhadap sikap suaminya kalau dia berangkat pagi2,
 suaminya tidak rela tapi kalau berangkatnya telat dia marah2 serba salah jadinya.
Memang sih waktu itu suaminya buru2 karena ada panggilan interview di sebuah perusahaan.

Selama di perjalanan Laras berfikir, ini bukan pertama kalinya suaminya se-sensitif ini.
Selama bertahun2 dia hidup bersama suaminya selalu seperti ini terlebih jikalau
dia memiliki uang sedangkan istrinya sudah tak memegang uang lagi semuanya habis
untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka.
Tapi, jika si istri masih punya uang suaminya sangat manis dan tak pernah marah2.
Jikalau Laras ngomong baik2 tentang sikap suaminya ini Hanafi tetap memiliki
1000 pembelaan diri, dia gak mau diukur dengan materi karena buatnya materi itu gak penting
tapi SABAR dan SANTUN yang paling penting.
Selalu itu yang Hanafi katakan pada Laras tapi, Laras tau betul kebiasaan suaminya.

“Ya Alloh kurang apa aku ini di mata suamiku? Sekian lama aku tutupi statusnya
yang pengangguran dari keluarga besarku.
Tapi kenapa suamiku tak pernah mau mengerti aku? Salah aku apa Ya Allah?
Apakah karena aku belum bisa memberikannya seorang anak sehingga dia bisa seperti ini padaku”
Laras hanyut dalam do’a2nya dan hanya menangis yang bisa dia lakukan.

Bukan hanya itu juga tak jarang kalau Hanafi di pagi hari sudah marah2 dan ngambek,
begitu tiba di rumah dan ketemu istrinya dia mau bercengkrama dengan istrinya.
Tapi, dia hanya diam 1000 bahasa hingga Laras mau minta maaf terlebih dahulu.
Istrinya sering mengalah dalam hal ini karena dia pikir di rumah ini kami hanya berdua
kalo gak ada yang diajak ngobrol harus ngobrol sama sapa lagi?
Tapi, terkadang juga Laras tetap diam semata2 dia juga mau suaminya menyadari kesalahannya.

Hmmm…Sebenarnya siapakah yang harus disalahkan dalam masalah ini ?
Si istri yang terlalu perasa atau suaminya yang pengangguran sehingga memaksanya
harus menjadi seorang yang sensitif ?
Tapi Laras sangat menerima dengan kondisi suaminya saat ini

dan dia tidak menuntut apa2 dari suaminya.
Terkadang sang istri merasa iri dengan teman2nya yang serba kecukupan baik dari suaminya
punya pekerjaan yang mapan dan gaji tinggi, materi kecukupan, memiliki rumah yang mewah,
punya anak…begitu bahagianya mereka.
Sedangkan aku punya motor aja masih kredit dan itu belum lunas, masih ngontrak di rumah
yang kecil karena gajiku tak cukup untuk ngontrak rumah yang lebih besar,
belum lagi suamiku yang pengangguran.
Laras meratapi kondisi rumah tangganya yang sulit “Astaghfirullohaladhim…
tak seharusnya aku begini Ampuni aku Ya Alloh yang mungkin kurang bersyukur
atas nikmat dan rahmat yang telah Engkau berikan pada kami”
Laraspun terhentak dari ratapannya.

Terkadang Laras ingin berbagi cerita tapi pada siapa dia harus cerita? Temankah ?
Apakah mereka bisa membantu mengurangi derita Laras ? Tentu tidak paling mereka

hanya jadi pendengar yang baik dan merasa kasihan padaku, sedangkan aku tidak butuh dikasihani
apalagi ini aib rumah tangga yang bukan untuk konsumsi publik.
Keluargaku? Jangan, ini akan jadi boomerang untukku, habis dicaci dan dimaki
oleh keluargaku karena dulu yang ngotot untuk menikah dengan Mas Hanafi itu aku.

Gimanapun aku harus menjaga nama baik suamiku. Laras terus berpikir…
Apa mertua aja ya? Secara mertua sudah tau kondisi suamiku, tapi,
janganlah mereka sudah pada tua dan gak sepantasnya aku membebani pikiran mereka lagi.
Lalu, pada siapa lagi aku harus berbagi untuk mengurangi kesedihanku ini ?
Laras terus berpikir…

Ya…benar hanya pada Alloh aku bisa mencurahkan semuanya.
Hanya Pada Dia aku bisa menceritakan semuanya
dan hanya Alloh yang bisa menolong kami.
Meski Laras harus selalu menangis di setiap Sholatnya,

setidaknya hal itu sudah mengurangi beban Laras.
Akhirnya Laras memutuskan hanya menyimpan rapat2 kondisi rumah tangganya
dari semua orang, biarlah dia yang mengalami dan merasakannya.
“Syukur Alhamdulillah suamiku juga sangat menyayangi aku, dia tidak menuntut apa2,
emang dia kadang sensitif sekali, tapi itulah sifatnya nggak apa2 aku terima ini
sudah resiko aku mau mengarungi bahtera hidup ini bersamanya

hingga ajal menjemput kami.” Laras tersadar dari semua…
setidaknya dia masih bisa bersyukur kalau suami seperti Mas Hanafi
tidak pernah menyalahkannya hingga 2,5 tahun mereka belum memiliki keturunan dari rahim Laras.
Itu yang membuat Laras semakin semangat menjalani hidup ini, meski banyak kekurangan
yang ada didirinya dan suaminya.

Pasti semua ini ada hikmah yang baik untuknya dan suaminya.
Laras hanya bisa bersabar, pasrah dan ikhlas menjalani hidupnya bersama suaminya
dan terus berharap suatu saat Alloh bisa memberikannya keturunan dari rahimnya sendiri
dan suaminya juga bisa menjadi orang yang sukses, Insya Alloh.. apapun keadaan suaminya
Laras ikhlas menerimanya karena tujuannya adalah ingin mengabdi
deangan setia pada Alloh Sang Maha Pencipta dan suaminya.

Ya Alloh Kuatkan kami berdua dalam mengarungi bahtera rumah tangga kami
dan menjalani kehidupan ini.
Jangan Engkau berikan kami berdua ujian dan cobaan
yang melebihi batas kemampuan kami Ya Alloh…Amien

0 komentar:

Poskan Komentar